Penyakit

Waspada Wabah Difteri

8 January 2018 | 7:48 | penyakit

Penyakit difteri masih terus mengintai masyarakat Indonesia. Setelah tahun lalu wabah difteri menyerang Purwakarta, di tahun 2018 ini masih banyak daerah di Indonesia yang dianggap rawan penyakit difteri hingga ditetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa) difteri.

Data terbaru dari kementrian kesehatan Desember 2017, menunjukan bahwa wabah difteri sudah tersebar di 20 provinsi dan 95 kabupaten.

Selain di Indonesia, pada 29 Oktober 2017, WHO di Sana’a, Yemen, menerima laporan terduga kasus Difteri sebanyak 333 kasus yang mencakup 35 kasus berakhir dengan kematian (14 diantaranya adalah anak dibawah 5 tahun). 79% orang yang terjangkit virus ini berumur kurang dari 20 tahun, sementara 19% kasus terjadi pada anak dibawah 5 tahun. Proporsi antara pria dan wanita yang terkena virus ini juga terdistribusi merata. 61% kasus terjadi pada mereka yang belum pernah menerima vaksinasi Difteri sama sekali.

Terdapat 804 kasus difteri (termasuk 15 kasus berakhir dengan kematian) dilaporkan selama kurun waktu 3 November 2017 sampai dengan 12 December 2017 di komunitas Rohingya, Myanmar. 73% kasus berumur kurang dari 15 tahun dan 60% diantaranya adalah wanita.14 dari 15 orang yang meninggal berusia kurang dari 15 tahun.

Mengenal Penyakit Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.  Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:

  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Terkadang, difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Diagnosis dan Pengobatan Difteri

Untuk menegakkan diagnosis difteri, awalnya dokter akan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami pasien. Dokter juga dapat mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Pencegahan Difteri dengan Vaksinasi

Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup.

WHO merekomendasikan penanganan kasus difteri yang sejalan dengan guideline WHO, yakni penggunaan antitoksin difteri (DAT), antibiotic yang sesuai, preventif infeksi serta pengukuran pengontrolan kasus. Untuk populasi dengan resiko yang tinggi seperti anak berusia dini, mereka yang memiliki kontak langsung dengan pasien difteri serta para pekerja/ teknisi kesehatan seharusnya menerima vaksinasi difteri secara regular.

Reference:
http://www.alodokter.com/difteri
http://www.who.int/csr/don/13-december-2017-diphtheria-bangladesh/en/
http://www.who.int/csr/don/22-december-2017-diphtheria-yemen/en/

Kembali ke Kategori Penyakit
Rate this article
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading...